The Little Prince Movie – Apakah Semanis Bukunya?

Siapa yang tidak kenal The Little Prince? Novel karya Antoine de Sant-Exupéry yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1943 ini merupakan salah satu buku best seller dunia. Bagi saya sendiri, kisah The Little Prince begitu manis untuk dibaca.

Buku ini bercerita tentang seorang anak (Little Prince) yang pergi meninggalkan setangkai mawar yang dicintai. Ia berkelana antar asteroid dan bertemu berbagai manusia dewasa dengan segala keanehannya (the King, the Conceited Man, dan Businessman). Ketika akhirnya tiba di bumi, ia bertemu ular yang ingin menggigitnya, berteman dengan seekor rubah, dan bertemu ratusan bunga mawar yang serupa. Di tengah Gurun Sahara, seorang pilot yang baru saja mengalami kecelakaan dibuat terkejut oleh kehadiran Little Prince yang memintanya menggambar seekor domba.

Kisah The Little Prince yang melegenda ini telah diadaptasi menjadi sebuah film di tahun 2015. Dengan budget $81.2M, film ini menggunakan animasi stop motion untuk menampilkan cerita The Little Prince seperti yang tertulis di buku dan animasi komputer untuk menggambarkan kisah di dunia modern. Iya, film ini berlatar waktu puluhan tahun setelah petualangan the Little Prince terjadi, sehingga Sang Pilot sudah sangat tua ketika mengisahkan cerita ini.

Sinopsis

Cerita bermula ketika ibu dan anak perempuannya (yang tidak disebutkan namanya) pindah ke rumah baru, bersebelahan dengan rumah kakek tua eksentrik yang berusaha menerbangkan pesawat dari halaman belakang. Usaha menerbangkan pesawat itu ternyata merusak rumah Sang Anak, yang kemudian menjadi awal perkenalan mereka.

Sang Kakek bercerita tentang pengalamannya bertemu Little Prince di tengah Gurun Sahara, yang di awal terasa tidak masuk akal bagi Sang Anak. Namun lama kelamaan, kisah tentang Little Prince mengakrabkan dan mewarnai hari-hari mereka. Hal ini menjadi masalah yang perlahan muncul karena ibu dari Sang Anak telah menyusun jadwal belajar yang padat untuk anaknya demi masa depan yang cerah.

Little Prince di tengah gurun

Persahabatan antar generasi ini pelan-pelan merubah kebiasaan Sang Anak. Ia yang semula sangat dewasa dan logis, menjadi kembali kekanak-kanakan: suka bermain, tertawa, dan berimajinasi. Ia mulai mengganti pakaian formalnya dengan pakaian bermain, menghias kamarnya dengan bintang-bintang bercahaya, dan membawa boneka rubah yang diberi Sang Kakek kemana-mana. Tidak hanya itu, ia bahkan berbohong pada ibunya tentang kegiatan yang dilakukan. Hal ini tentu saja membuat Sang Ibu murka.

Berbohong dan menyembunyikan bonekanya

Suatu hari Sang Kakek berkata bahwa dia akan pergi “menuju Little Prince” dengan pesawatnya. Sang Anak bertekad untuk ikut, tetapi Sang Kakek menolak dan menceritakan penghujung pertemuannya dengan Little Prince. Bahwa ia melihat bayangan ular kemudian Little Prince jatuh digigit. Namun begitu, Sang Kakek percaya bahwa Little Prince sedang tertawa di atas sana, di antara bintang-bintang. Keinginan Sang Kakek untuk “menuju Little Prince” pun baru disadari Sang Anak sebagai makna ganda, yaitu kakek pilot sudah tua dan waktunya untuk pergi menuju bintang akan segera tiba. Hal ini membuat Sang Anak marah pada Sang Kakek, pada cerita Little Prince, dan pada dirinya sendiri yang telah menyia-nyiakan liburan musim panas untuk “kisah tak berguna.”

“I wish you had never told me this stupid story”

Di malam terakhir liburan musim panas, Sang Kakek dilarikan ke rumah sakit. Sang Anak, yang menyesal dengan sikap terakhirnya, bertekad untuk mencari Little Prince demi Sang Kakek. Ia berhasil menerbangkan pesawat bersama boneka rubah yang tiba-tiba menjadi hidup. Di sebuah planet (atau asteroid) yang penuh gedung bertingkat, Little Prince ditemukan. Namun sebelum berhasil menjumpai Little Prince, Sang Anak bertemu Conceited Man sebagai polisi dan Sang Raja (the King) yang menjadi penjaga lift.

Di puncak sebuah gedung, Sang Anak mengetahui bahwa Little Prince telah tumbuh menjadi Mr. Prince, pembersih gedung yang karirnya sedang terancam akibat kegagalannya melakukan pekerjaan. Lebih parahnya lagi, Mr. Prince telah lupa dengan segala memori masa lalunya. Ketika Sang Anak berusaha mengembalikan ingatan Mr. Prince, ia justru digiring Mr. Prince menuju “akademi” untuk mendewasakan anak-anak agar dapat dipekerjakan oleh Businessman.

Mr. Prince

Akankan Mr. Prince kembali menjadi Little Prince yang dulu? Ataukah Sang Anak yang berhasil didewasakan dan melupakan masa kecilnya selamanya?

Ulasan Film

Setiap menonton film yang diadaptasi dari buku, apalagi jika itu buku favorit, saya selalu membandingkan isi cerita dan biasanya berakhir kecewa. Sehingga ketika berencana menonton film the Little Prince, saya mempersiapkan diri untuk menyambut “rasa kecewa” yang akan datang. Apalagi melihat gambar posternya yang menunjukkan bahwa ada penambahan tokoh. Hmm, sepertinya kemurnian kisah Little Prince akan tercoreng. Begitu pikir saya di awal.

Setelah menonton filmnya saya sadar bahwa penambahan tokoh ibu dan anak mempermudah penonton melihat film ini dari sudut pandang kehidupan zaman modern. Di mana Sang Ibu sibuk bekerja sedangkan anaknya dituntut untuk belajar rajin. Karena bagi Sang Ibu, anaknya harus berprestasi akademis agar bisa survive di kehidupan yang kejam ini. Hal ini menjadi menggelitik sekaligus menyentil bagi saya, karena Sang Anak yang baru sembilan tahun itu sudah dituntut menjadi orang dewasa yang kehidupannya serius dan tidak punya waktu untuk bermain, apalagi berimajinasi.

Pertama kali Sang Anak membaca cerita Little Prince

Sementara itu di planet tempat Mr. Prince “tersasar,” semua orang telah sukses didewasakan oleh sebuah akademi dengan sesosok “guru” yang mendidiknya. Sehingga penduduknya adalah orang dewasa yang sibuk bekerja untuk Businessman. Tentu saja orang dewasa itu tidak punya waktu untuk menikmati hal-hal kecil, bahkan untuk sekedar tertawa. Rasanya ini sindiran tegas untuk kenyataan zaman sekarang, di mana manusia hanya disiapkan untuk menjadi pekerja dan lupa untuk menikmati hidup.

Orang dewasa yang sibuk bekerja

Seperti bukunya, film ini menyampaikan bahwa hal terpenting dalam hidup bukan berasal dari materi, fisik, atau hal-hal yang dapat dilihat mata. Tidak seperti Businessman yang menghitung dan mengumpulkan bintang for nothing. Sebaliknya, hati lah yang seharusnya dapat melihat mana yang lebih berharga. Karena hal yang berharga tidak bisa diukur dengan apapun dan tidak bisa dilihat oleh mata.

Lebih dalam lagi, kekuatan hati bisa membuat kepergian orang yang dicintai tidak selalu menyakitkan. Karena orang yang benar-benar kita cintai akan selalu hidup di dalam hati. Seperti Little Prince yang selalu hidup dalam hati Sang Kakek, yang selalu ia dengar suara tertawanya di antara bintang-bintang.

Pada film ini, kisah Little Prince sendiri hanya setengah dari durasi film. Itu artinya setengah filmnya lagi bercerita tentang petualangan Sang Anak mencari Little Prince. Wow, seperti apa Little Prince di kemudian hari? Sebagai penggemar berat, rasanya saya akan kecewa jika mengetahui bahwa Little Prince dewasa atau Mr. Prince telah menjadi orang dewasa yang terpaksa sibuk dengan pekerjaannya dan lupa akan masa kecilnya. Benar saja, ketika melihat adegan Sang Anak bertemu Mr. Prince, saya patah hati. Namun akhirnya saya sadar bahwa visualisasi ini adalah cara agar pesan dari kisah Little Prince lebih menyentil.

“Growing up is not a problem. Forgetting is”

Tentu saja tidak ada yang sempurna di dunia. Dalam 106 menit kenikmatan menonton film ini, ada beberapa hal yang rasanya tidak masuk akal. Eh, sebentar, bukankah dari awal cerita memang sudah tidak masuk akal? Siapa yang percaya ada seorang anak yang tinggal sendiri di asteroid B-612? Kemudian dia terbang bersama kawanan burung ke asteroid lain hingga ke bumi? Iya, cerita Little Prince sendiri memang imajinatif. Namun, bagian yang saya rasa tidak masuk akal adalah tokoh Sang Anak yang masih sembilan tahun, sudah belajar kalkulus (juga pelajaran lain) dengan text book yang tebal. Sepertinya waktu saya sembilan tahun masih main bola bekel, deh. Wqlau begitu, saya memakluminya karena mungkin dengan contoh ekstrem seperti ini, pesannya bisa disampaikan dengan baik. Sehingga kejanggalan ini dapat dimaafkan, bahkan dilupakan. Toh, film ini lebih cocok untuk dinikmati dan diresapi. Apalagi untuk orangtua seperti saya.

Akhir kata, jika saya mendeskripsikan buku the Little Prince sebagai novel yang manis, maka kata yang sama juga saya sematkan untuk filmnya. Dan saya akan merekomendasikan film ini untuk siapa saja mulai dari orang tua, pasangan, anak-anak, remaja, mahasiswa, juga kakek-nenek. Film yang mungkin perlu ditonton ulang berkali-kali untuk meresapinya lebih dalam.


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti tantangan mamah gajah ngeblog bulan Juni dengan tema review film keluarga. Semoga ada manfaatnya✌

One thought on “The Little Prince Movie – Apakah Semanis Bukunya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s